|| 1 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
MACAM-MACAM HATI
DAN KRITERIANYA
Hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja
yang bertahta diatas singgasana yang dikelilingi para
punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas
perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah pengendali
dan sekaligus sebagai pemberi komando terdepan yang setiap
anggota tubuh berada di bawah kekuasaannya. Di hati inilah
anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, baik dalam
ketaatan atau penyimpangan. Organ-organ tubuh lainnya selalu
mengikuti dan patuh dalam setiap keputusan.
Nabi saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh
manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka
baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka
rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya
segumpal daging itu adalah hati.”[HR. Bukhari-Muslim].
Pengelompokan Hati Manusia
Hati manusia terbagi menjadi tiga klasifikasi: Qalbun Shahih (hati
yang suci), Qalbun Mayyit (hati yang mati), dan Qalbun Maridl (hati
yang sakit).
Pertama, Qalbun Shahih
yaitu hati yang sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu
yang menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dari
setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya. Sehingga ia
selamat dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari
penyelesaian hukum pada selain rasul-Nya. Karenanya, hati ini
murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik
pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal
(berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-
Nya. Bahkan seluruh aktivitasnya hanya untuk Allah Subhanahu wa
Ta’ala semata. Jika mencintai maka cintanya itu karena Allah, dan
jika membenci maka kebenciannya itupun karena Allah, jika
memberi atau bersedekah, hal itu karena-Nya dan jika tidak
|| 2 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
memberi, juga karena Allah. Dan tidak hanya itu saja, tapi diiringi
dengan kepatuhan hati dan bertahkim kepada syari’at-Nya. ia
mempunyai landasan yang kuat dan prinsip tersendiri dalam
menjadikan Muhammad saw sebagai suri tauladan dalam segala
hal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang
beriman janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.”[QS. Al-Hujurat:1].
Ciri-ciri Qalbun Shahih
1. Apabila hati pergi meninggalkan dunia menuju dan berdomisili di
alam akhirat, sehingga seakan ia termasuk penduduknya. Ia
datang ke dunia fana ini bagaikan seorang asing yang kebetulan
singgah sebentar sebelum meneruskan perjalanan menuju alam
akhirat. Sebagaimana telah diwasiatkan Nabi saw kepada Abdullah
bin Umar : “Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang
asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan.” [HR.
Bukhari].
2. Jika ia tertinggal wirid, atau sesuatu bentuk peribatan lainnya,
maka ia merasakan sakit yang tiada terperi ,melebihi sakitnya
orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang
kesayangannya.
3. Ia senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah,
melebihi keinginan orang yang lapar kepada makanan dan
minuman. Yahya bin Mu’adz berkata: “Barangsiapa yang merasa
berkhidmat kepada Allah, maka segala sesuatupun akan senang
berkhidmat kepadanya, dan barang siapa tentram dan puas
dengan Allah maka orang lain tentram pula ketika melihat dirinya.
4. Apabila tujuan hidupnya hanya untuk taat kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
5. Bila sedang melakukan sholat, maka sirnalah semua
kegundahannya dan kesusahan kaena urusan dunia. Sebab di
dalam sholat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa
yang suci.
6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakanya,
melebihi rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga hartanya.
|| 3 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
7. Tidak pernah terputus dan futur (malas) untuk mengingat Allah
Idan berdzikir kepada-Nya.
8. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas dari suatu amal
perbuatan daripada kuantitas. ia lebih condong pada keikhlasan
dalam beramal, mengikuti petunjuk syari’at rasulullah saw di
samping ia selalu merenungi segala bentuk karunia yang diberikan
Allah kepadanya, dan mengakui tentang kelalaian dan
keteledorannya dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Kedua, Qalbun Mayyit
Qalbun Mayyit (hati yang mati) adalah kebalikan dari hati yang
sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak
mencintai atau ridha kepada-Nya. dan ia berdiri berdampingan
dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa
nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala
marah dan murka akan perbuatannya. Ia tidak peduli lagi apakah
Allah ridha atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia
memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika mencintai
didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula dengan membenci,
memberi. Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada rasa cinta
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hati jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka
seruan itu tidaklah berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah menutup hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman: ” Dan diantara mereka ada orang yang mendengar
(bacaanmu), padahal kami telah meletakkan tutup di atas hati
mereka sehingga mereka tidak memahaminya) dan kami letakkan
sumbatan di telinganya dan jikalaupun mereka melihat segala
tanda kebenaran mereka tetap tidak mau beriman kepadanya.
Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu,
orang-orang kafir itu berkata: Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah
dongengan orang-orang dahulu’.”[QS. Al-An'am:25].
Ayat ini menunjukkan, bahwa ada manusia yang tidak
mempergunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah
Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak mempergunakan telinganya untuk
mendengar perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga
tidak mau melihat kebenaran yang telah disampaikan. Seperti
|| 4 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(Mereka berkata:)
Hati kami tertutup dari ajakan yang kamu serukan kepada kami,
dalam telinga kami ada sumbatan, dan diantara kami dan kamu
ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja
pula.”[QS. Fushilat:5].
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membiarkan mereka dalam
kegelapan dan mereka sedikitpun tidak akan mendapatkan cahaya
iman. “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang
menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya.
Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Dan
membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat,
mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidaklah kembali kepada
jalan yang benar.” [Al-Baqarah:17-18].
Ketiga, Qalbun Maridl
Qalbun Maridl (hati yang sakit) adalah hati yang sebenarnya
memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih
penyakit berupa kejahilan. Hati yang sedang di cekam sakit akan
mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan
maud’izah. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan
bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang
keras hatinya.”[QS. Al-Hajj:53].
Karena sesungguhnya apa yang disisipkan oleh setan kedalam hati
manusia itu, akan membuat sesuatu menjadi syubhat (sesuatu
yang meragukan), seperti penyakit ragu dan sesat. Begitu hati
menjadi lemah karena penyakit yang diidap, maka setanpun
mudah merasuk kedalam hati lalu menghidupkan fitnah dalam hati
tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sesungguhnya jika
tidak berhenti orang-orang munafiq, orang-orang yang berpenyakit
dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong
di madinah (dari menyakitimu) niscaya kami perintahkan kamu
(untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi
tetanggamu (di madinah) melainkan dalam waktu yang
sebentar.”[Al-Ahzab:60].
Namun demikian hati orang-orang yang seperti itu belumlah mati
sebagaimana hati orang-orang kafir dan orang-orang munafiq,
akan tetapi bukan pula hati sehat, seperti sehatnya hati orang||
5 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
orang yang beriman. Sebab di dalam hati mereka terdapat
penyakit syubhat dan syahwat. Sebagaimana Firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala: “Sehingga berkeinginanlah orang-orang
yang ada penyakit di dalam hatinya.”[QS. Al-Ahzab:32].
Ciri-ciri Qalbun Maridl
Boleh jadi hati manusia sedang sakit , bahkan tanpa disadari. Lebih
tragis bahwa hatinya sebenarnya mati, namun si empunya tidak
menyadari.
Tanda-tanda spesifik hati yang sedang sakit atau mati adalah jika
ia tidak merasa sakit dan pedih oleh goresan-goresan pisau
kemaksiatan, Hal itu disebabkan karena hatinya telah rancu dan
teracuni, sehingga tidak dapat lagi membedakan antara nilai
kebenaran dan aqidahnya yang batil. Hal ini seperti ditafsirkan oleh
Mujahid dan Qatadah tentang firman Allah yang berbunyi: “Fi
Qulubihim Maradhun”[QS.Al-Baqarah:10]. artinya: “Dalam hati
mereka terdapat penyakit.” “Ayat ini menunjukkan adanya
keraguan yang tumbuh dalam hati manusia tentang kebenaran.”
Bahkan ia melihat kebenaran bagai sesuatu yang sangat
bertentangan dengan kehendaknya. Kebenaran itu dilihat dari sisi
lain yang terasa merugikan dirinya. sehingga dalam kondisi seperti
ini ia lebih menyukai kebatilan dan kemudharatan.
Faktor-faktor penyebab sakitnya hati
Penyebab timbulnya penyakit di hati adalah dikarenakan
banyaknya fitnah yang selalu dibidikkan pada hati. Fitnah-fitnah
tersebut dapat berupa: fitnah syahwat, dimana reaksinya amat
keras sampai dapat merancukan niat dan iradat (kehendak)
seseorang. Dan yang lain adalah fitnah syubhat (keragu-raguan)
yang menyebabkan kacaunya persepsi dan i’tiqad (keyakinan).
Racun Hati
Setiap kemaksiatan adalah racun dan yang merupakan penyakit
dan perusak kesucian hati. Dan racun-racun hati yang paling
banyak ditemukan dan reaksinya cukup keras bagi kelangsungan
hidup hati ada empat macam yaitu:
|| 6 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
1. Berlebihan dalam berbicara
Banyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati
menjadi keras, sebagaimana sabda rasulullah saw :”Janganlah
memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak
bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang
terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”[HR. Tirmidzi dari
Ibnu Umar]. kemudian juga dengan banyak berbicara terkadang
membuat seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan dan
tanpa dipertimbangkan sebelumnya, sehingga melahirkan kerugian
dan penyesalan. Umar bin Kahttab ra pernah berkata: “Barang
siapa yang banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya,
sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.” Hal ini
ditegas juga dalam sebuah hadits , bahwa rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan katakata
tanpa dipikirkan yang menyebabkan ia tergelincir kedalam
neraka lebih jauh antara timur dan barat.” [muttafaq ‘alaihi, dari
Abu Hurairah t]
2. Berlebihan dalam memandang sesuatu
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada setiap
mukmin dan mukminah untuk menundukkan pandangannya yang
demikian itu lebih suci bagi hati-hati mereka. Dan juga mereka
akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda rasulullah
saw : “Barangsiapa yang menahan pandangannya karena Allah,
maka dia akan diberikan oleh Allah rasa manisnya iman yang ia
rasakan dalam hatinya, sampai dimana ia manghadap kepada-
Nya.” [HR. Ahmad]. Sekarang bagaimana jika perintah itu
dilanggar, maka jelas akan menyebabkan fitnah bagi hati
pelakunya. yaitu, rusaknya kesucian hati itu sendiri oleh anganangan
dan keindahan semu yang dibisikkan setan, lupa terhadap
hal yang menjadi kemaslahatan. Lalu ia berbuat melampaui batas
sehingga hilanglah akal sehatnya dan menyebabkan ia menjadi
pengabdi hawa nafsu. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:”Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah
kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya
dan adalah keadaannya itu melampaui batas.”[QS. Al-Kahfi:28].
3. Berlebihan dalam makan
Sedikit makan dapat melunakkan hati, menajamkan otak,
merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah.
|| 7 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
Sedangkan bila banyak makan, bahkan sampai kekenyangan akan
berakibat sebaliknya.
Dari Miqdam bin Ma’di Karib dia berkata, bahwa ia mendengar
rasulullah saw bersabda: “Anak adam tidak memenuhi wadah yang
lebih buruk, daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya
beberapa suap saja untuk menguatkan tulang rusuknya. Jika
memang tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanan,
sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya.”[HR.
Ahmad dan Tirmidzi].
Alangkah banyak kemaksiatan yang tersulut akibat makan yang
berlebihan dan menghalangi ketaatan manusia kepada Sang
Khalik. Karenanya siapa yang mampu menjaga perutnya dari sifat
serakah, maka ia benar-benar membuktikan bahwa dirinya mampu
menjaga diri dari keburukan yang lebih fatal lagi.
Ibrahim bin Adham berkata:”Barangsiapa mampu mengendalikan
perutnya, maka ia mampu pula mengendalikan agamanya, dan
barang siapa yang mampu menguasai rasa lapar (tidak makan
berlebihan) maka ia dapat menguasai akhlak-akhlak yang baik,
sebab maksiat kepada Allah itu jauh dari orang-orang yang lapar
(yang mampu syahwat perutnya).”
4. Berlebihan dalam bergaul
Betapa tragis suatu pergaulan yang dapat merampas kenikmatan
yang telah ada, karenanya timbul benih-benih permusuhan dan
kebencian yang terpendam sehingga menyesakkan rongga-rongga
dada. Namun rasa itu sulit dihindari terutama oleh hati yang sudah
terluka. Demikian juga berlebih-lebihan dalam pergaulan dapat
mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Seyogyanya bagi
seorang hamba dapat mengambil hikmah dari setiap pergaulan.
usahakanlah untuk bersikap bijak dan dapat menempatkan diri
dalam menghadapi berbagai karakter teman sepergaulan. Dimana
karakter-karakter tersebut ada empat golongan:
- Terhadap orang yang jika kita membutuhkan bergaul dengannya,
laksana kebutuhan kita terhadap makanan, kita tidak dapat lepas
darinya dalam sehari semalam. Mereka itu adalah Para Ulama
yang memiliki cakrawala pengetahuan yang luas tentang ilmu
Agama, mengetaui tipu daya setan dan segala macam bentuk
penyakit hati.
|| 8 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya seperti
kebutuhan kita akan obat, Kita mengharapkannya dikala kita
sedang sakit saja, tetapi bila badan kembali sehat maka mereka
tidak kita butuhkan lagi. mereka ini adalah dari orang yang
kehadirannya kita nantikan berkaitan dengan masalah
kemaslahatan hidup dan kehidupan, seperti untuk saling
bekerjasama atau sebagai mitra kerja dalam berniaga, bertani,
bermusyawarah dan masalah-masalah lain dalam hal muamalah.
- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya, tidak ubahnya
seperti penyakit. Golongan ini terbagi menjadi beberapa jenis dan
tingkatan, bergantung pada intesitasnya terhadap jiwa kita.
Diantara mereka adalah yang bersifat individualis dan egoistis. Jika
bergaul dengannya hendaklah kita waspada dan berlaku bijak
dalam menghadapinya. Hal ini bukan berarti kita harus menghindar
dan tidak mau bergaul dengannya, tetapi jagalah jangan sampai
diri kita terbawa oleh pengaruh kepribadiannya, karena akan
merugikan kita dalam hal agama dan dunia. oleh karena itu
sebaiknya orang-orang yang masuk dalam tipe ini hendaklah
dujauhi jika ingin selamat agama dan dunia kita.
- Terhadap orang yang bila kita bergaul dengannya akan membawa
kefatalan, sebab ia laksana ular berbisa. Andaikan kita sampai
terkena patuknya, kemudian kita berhasil menemukan penawarnya
maka selamatlah kita, tetapi jika tidak, inilah bencana bagi kita.
Golongan ini banyak berkeliaran di sekitar kita. Mereka adalah Ahli
bid’ah yang sesat dan menyesatkan, menyimpang dari sunnah
rasulullah saw. Mereka pandai membolak-balikkan fakta, sunnah
mereka jadikan bid’ah dan bid’ah mereka jadikan sunnah. Bagi
orang yang berakal tidak layak untuk bergaul ataupun dudukduduk
bersama mereka. Jika itu tetap dilakukan maka akan
sakitlah hati bahkan bisa menyebabkan hatinya menjadi mati.
Kiat Menjadikan Hati Tetap Hidup
Ketahuilah, bahwa hati yang hidup (hati yang sehat) hanya akan
diperoleh dengan ilmu dan ikhtiar (usaha). Adapun usaha tersebut
yang bisa dilakukan untuk menjadikan hati tetap hidup adalah:
1. Dzikrullah dan Tilawatil Qur’an.
Dengan senantiasa dzikrullah (menyebut dan mengingat Allah)
bagi seorang hamba manfaatnya sangatlah besar. Sebagaimana
|| 9 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
Dia berfirman: “Ingatlah, bahwa hanya dengan selalu mengingat
Allah, hati menjadi tentram.”[QS. Ar-Ra'du:28]. Al-Imam
Syamsuddin Ibnul Qoyyim berkata: ”Sesungguhnya dzikir adalah
makanan pokok bagi hati dan ruh, apabila hamba Allah gersang
dari siraman dzikir, maka jadilah ia bagaikan tubuh yang terhalang
untuk memperoleh makanan pokoknya.”Dan Imam Hasan Al-Bashri
berkata:”Lunakkanlah hatimu itu dengan berdzikir”.
Kendatipun dzikrullah adalah salah satu bentuk ibadah yang
termudah dan ringan, akan tetapi pahala dan keutamaan yang
didapatkan melebihi amalan-amalan lainnya. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman: ”Sesungguhnya mengingat-ingat Allah adalah
lebih besar (keutamaannya daripada ibadat yang lain).”[Qs. Al-
Ankabut:45].
Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al-Qur’an, karena Al-Qur’an
mengandung berbagai khasiat penyembuh hati dari semua
penyakit kegundahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; “Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada
dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang
beriman.”[QS. Yunus:57].
2. Beristighfar
Hakikat istighfar adalah untuk memohon maghfirah (ampunan),
dan batasan maghfirah adalah penjagaan dari keburukan yang
diakibatkan dari dosa-dosa. Dan barangsiapa yang meminta ampun
kepada-Nya selama memenuhi syaratnya pasti Allah Subhanahu
wa Ta’ala memberikan ampunan. Firman-Nya: “Dan barangsiapa
yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia
meminta ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”[QS. An-Nisa’:110].
Hendaklah seseorang itu memperbanyak istighfar kepada-Nya
dimanapun berada, sebab seseorang itu tidak tahu dimana tempat
maghfirah Tuhannya turun. sebagaimana rasulullah saw bersabda:
“Demi Allah, sesungguhnya aku selalu mohon ampunan kepada
Allah sehari semalam lebih dari tuju puluh kali.” [HR. Bukhari].
‘Aisyah i berkata: “Beruntunglah orang yang mendapat dalam
buku catatan amal perbuatannya memuat istighfar yang banyak.”
Qatadah berkata:”Sesunggunhya Al-Qur’an ini memberikan
petunjuk kepadamu tentang penyakitmu dan obat penangkalnya.
|| 10 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
Adapun penyakitmu adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah
istighfar.”
3. Do’a
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku
niscaya Aku perkenankan bagimu. “[QS. Al-mukmin:60].
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada
kita agar berdo’a kepada-Nya dan Dia akan memenuhi
permohonan hamba-Nya. berkenaan dengan ini rasulullah saw
bersabda: “Tidaklah seorang Muslim pun berdo’a dengan do’a yang
di dalamnya tidak berisi dosa dan pemutus tali silaturahmi
melainkan Allah memberikan kepadanya salah satu dari tiga
perkara: Allah akan menyegerakan permohonannya itu (diperoleh
di dunia) atau Allah akan menyimpannya untuknya di akhirat kelak,
atau Dia memalingkan darinya keburukan yang setimpal dengan
do’anya itu.”[HR. Ahmad, hadits shahih]. Dalam ayat yang
sama Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:” Sesungguhnya orangorang
yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau
berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan
terhina.”[QS. Al-mukmin:60]. Orang-orang yang tidak mau
berdo’a kepada-Nya maka mereka yang dikatakan Allah
Subhanahu wa Ta’ala adalah termasuk orang yang sombong, dan
mereka mendapatkan murka dari-Nya. sebagaimana rasulullah saw
bersabda: “Barang siapa yang tidak mau meminta (memohon
kepada Allah), maka Allah murka terhadap-Nya.” [HR. Tirmidzi
dari Abu Hurairah].
4. Bershalawat kepada Nabi saw
Allah Subhanahu wa Ta’ala bershalawat (menyebut dan memuji di
hadapan para malaikat) sepuluh kali, bagi orang bershalawat
kepada rasul-Nya (sekali). Sebagaimana sabda beliau saw :
”Barang siapa yang bershalawat untukku satu kali. Maka Allah akan
bershalawat sepuluh kali lipat.”[HR. Muslim]. Karena yang
demikian itu, setiap satu kebaikan nilainya akan dilipat gandakan
sepuluh kalinya, dan bershalawat untuk Nabi saw termasuk
kebaikan yang tinggi.
5. Qiyamullail
Jika seseorang tetap melakukan shalat malam, maka wajahnya
akan bercahaya dan dia juga akan merasakan kenikmatan
|| 11 dari 11 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari | Mail : ninda_ummusalma@yahoo.co.id
Courtesy of alsofwah foundation
beribadah dalam hatinya, sebagaimana yang dituturkan oleh para
Ulama Salaf berikut ini:
Abu Sulaiman berkata: “Malam hari bagi orang yang sering
beribadat di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan bagi
mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa
malam aku tak suka hidup di dunia ini.”
Ibnul Mukandir: ”Bagiku kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga
perkara, qiyamullail, bersilaturahmi dengan ikhwan dan shalat
berjama’ah.”
Maroji’:
Tazkiyatun Nufus oleh Dr. Ahmad Farid
Amraadlul Qulub wa Sifaauha oleh Ibnu Thaimiyah
Risalah Al-Hujjah No: 55 / Thn IV / Rabiul Akhir
Hati
24/02/2009 pada 5:22 PM (kumpulan buku-buku)
sehat4life berkata,
26/02/2009 pada 12:45 AM
Wah bagus sekali artikel nya, bisa menjadi banyak masukan nih.
Makasih ya!
saya sedang menulis perihal “Mengapa Timbul Penyakit” di blog saya. silakan berkunjung ya!
http://distributor4lifeindonesia.wordpress.com/2008/11/29/mengapa-timbul-penyakit/